1
Adaptasi orangutan: Disuaka Tanjung puting Kalimantan Tengah
Orangutan (Pongo pygmaeus) telah lama dianggap sebagai kera yang paling merupakan teka-teki. Meskipun penelitian lapangan yang baru (MacKinnon, 1971, 1974; Horr, 1972, 1975; Rodman, 1973) telah memperluas pengetahuan kita, kekurangan akan data yang terperinci dan berlaku untuk masa yang lama, masih tetap ada. Selama empat tahun (1971 sampai 1975) kami telah mengum-pulkan 6.804 jam pengamatan langsung terhadap orangutan liar (termasuk 14 individu yang telah terbiasakan akan kehadiran ka-mi) di Suaka Tanjung Puting yang terdapat di daerah pantai Kali-mantan Tengah. Satuan dasar populasi orangutan terdiri atas jan-tan dewasa yang hidup menyendiri, betina dewasa dengan satu atau lebih anak yang belum mandiri, dan hewan-hewan muda yang hidup bebas tetapi yang kadang-kadang masih bergabung dengan satuan yang melahirkannya. Jantan dewasa hampir selalu hidup soliter, kecuali apabila sedang berpasangan. Betina dewasa menggu-nakan 5 sampai 17% dari waktunya dalam kebersamaan dengan orangutan lain, sedang hewan muda yang hidup bebas ada dalam kontak dengan satuan lain sebanyak 40% dari seluruh waktunya. Hampir semua kebersamaan terdiri dari jantan dan betina, atau hanya betina semata-mata. Kontak antara jantan-jantan yang hi-dup menyendiri relatif tidak sering terjadi, dan hampir selalu bersi-fat non-sosial. Perbedaan utama antara sosiabilitas chimpanzee dan orangutan terletak pada yang jantan, dan bukan pada yang betina. Orangutan betina tertentu hidup dalam hubungan sosial hampir seperti individu chimpanzee yang paling tidak sosial yang pernah terlihat di Taman Nasional Gombe.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain